Pahala Sedekah Bagi Orang Yang Telah Wafat

Ceramah Habib Munzir pada hari Senin, 16 Maret 2009, di Masjid Al-Munawar, Pancoran, Jakarta Selatan.

Sabda Rasulullah saw :
“Sungguh seorang lelaki berkata kepada Nabi saw : Sungguh Ibuku wafat, dan aku mengira jika ia sempat bicara ia akan bersedekah, maka apakah ada pahala untuknya jika aku bersedekah atas namanya..?, maka bersabda Rasulullah saw : Betul” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Maha Raja Alam Semesta Yang Maha Mengundang hamba – hambaNya kepada keluhuran. Sampailah kita di malam hari yang agung ini dalam undangan Illahiyyah yang meruntuhkan dosa – dosa kita dan kemurkaan Allah kepada kita yang dengan kehadiran ini merupakan kesaksiaan para malaikat atas pengampunan Allah kepada kita.

“Usyhidukum malaikatiiy inniy qad ghafartu lahum” saksikan wahai para malaikat-Ku, Aku sudah mengampuni dosa – dosa mereka. Demikian hadirin, dan para malaikat berkata “ada diantara mereka yang bukan hadir karena engkau ikhlas tapi ada niat lainnya” maka Allah menjawab “humul julasaa’ Laa Yasyqaa bihim jaliisahum” orang – orang yang duduk bersama orang yang berdzikir kepada-Ku tidak akan Ku-hinakan. Orang – orang yang duduk berdzikir menyebut Nama Allah Rabbul Alamin, sambutan hangat dari yang disebut kepada para tamu – tamu yang menyebut Nama-Nya adalah pengampunan dosa dari segala kesalahan.

Inilah perkumpulan yang duduk dan menyebut dan mengagungkan Nama-Nya, lebih – lebih lagi jiwa yang rindu kepada Allah. Perkumpulan orang yang duduk memanggil Nama Illahi dicurahkan untuk mereka hujan pengampunan. Padahal jika seluruh langit dan bumi itu ditukar dengan satu dosa, belum akan bisa menutupinya karena dosa adalah kemurkaan Allah dan kemurkaan Allah adalah api neraka dan itu dihapuskan beribu juta dosa karena kehadiran mereka di majelis orang – orang yang menyebut Nama Allah. Dan mereka yang berkumpul turut termuliakan walau tidak berniat hadir untuk hal mulia itu.

Demikian Sang Maha Raja langit dan bumi memuliakanku dan kalian. Wahai aku dan kalian yang diciptakan Allah Maha Bercahaya menerangi kita dengan cahaya iman. Cahaya keindahan-Nya akan terlihat kelak bagi mukminin – mukminat, cahaya keagungan yang tidak bisa disaksikan oleh alam semesta, yang difirmankan oleh Allah 5.06 “lamma tajalla rabbahu liljabali ja’alahu dakkaa wa kharra muusa sha’iqa” ketika Allah memperlihatkan cahaya keagungan-Nya, cahaya kemegahan-Nya kepada gunung maka gunung itu hancur lebur dan robohlah Nabi Musa jatuh pingsan melihat cahaya yang berkilau menghancurkan gunung. Sehingga dijelaskan di dalam tafsir Imam Ath-Thabari bahwa gunung itu menjadi rata tidak ada tersisa debunya karena takutnya dan karena agungnya cahaya Rabbul Alamin. Bukan karena takutnya tapi karena takdhim dan pengagungannya, tidak tahan melihat cahaya keagungan Illahi.

Namun cahaya itu, keindahan itu disaksikan oleh Sayyidina Muhammad Saw. Allah berfirman ketika Sang Nabi saw berada di ufuk yang sangat tinggi. Dihadapan Allah lalu beliau diperintahkan untuk mendekat sebagaimana Imam Qadhi Iyadh.. menjelaskan didalam kitabnya Asysyifa’ Sang Nabi saw dipanggil mendekat Kehadirat Allah. “mendekat, mendekat wahai Muhammad tenangkan hatimu dari kerisauan”. Ketika Sang Nabi mendekat kepada Allah sepanjang dekatnya bagaikan dua busur atau lebih dekat lagi. Maka diwahyukanlah kepada Sang Nabi saw dengan wahyu – wahyu yang diberikan kepadanya. Allah menggelari Sang Nabi dengan Fuad, sanubari Muhammad Saw tidak berdusta atas apa yang ia lihat yaitu keindahan Allah. Keindahan Allah yang ketika penduduk neraka keluar dari api neraka dan telah ribuan tahun didalam api. Ketika ia melihat keindahan Rabbul Alamin, lantas ia ditanya “berapa lama kau rasakan pedihnya api neraka?” ia berkata “aku tidak pernah merasakan pedihnya api neraka”, terlupakan karena melihat indahnya Allah. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul ditanya oleh para sahabat “ya Rasulullah hal nara rabbana?” wahai Rasulullah apakah kami nanti melihat Tuhan kami, maka Rasul berkata “na’am” kalian akan melihat Tuhan kalian. Maka perbanyaklah doa “Allahummarzuqnannadhor ilaa wajhikal kariim”.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul saw bersabda “antum fi sholatin man tadhartumuuh” demikian riwayat Shahih Bukhari. “wa qolal hasan lam tazaaluuna filkhair mantadhar khair” kalian tetap dalam pahala shalat jika menantikan shalat fardhu. Walau sedang duduk menantikan shalat fardhu, itu terus mendapatkan pahala shalat walaupun ia tetap duduk di tempatnya. Lantas berkata Al Hasan berkata riwayat Shahih Bukhari “lam tazaaluuna fil khair man tadhartumuuh” kalian tetap dalam kebaikan dan pahala selama menanti perbuatan baik atau menantikan kebaikan. Kalau kebaikan yang ditunggu pahalanya sudah terus mengalir. Duduk di majelis menanti lama pahalanya sudah mengalir walau majelis belum di mulai. Beruntung orang yang menunggu rindu jumpa dengan Allah Swt. Hari – hari dihitung dalam kerinduan kepada Allah Jalla Wa Alla. Beruntung orang yang hidupnya merindukan Allah karena hari – harinya bercahaya dengan kerinduan Illahi. lam tazaaluuna fil khair man tadhartumuuh” kalian tetap dalam kebaikan selama menanti kebaikan. Maka mereka yang merindukan jumpa dengan Allah, mereka dalam cahaya kerinduan Allah. “Man ahabba liqaAllah ahabballah liqa’ah” barangsiapa rindu jumpa kepada-Ku, kata Allah. Aku pun rindu berjumpa dengannya. Demikian hadits qudsiy riwayat Shahih Bukhari.

Hadirin – hadirat, sampailah kita kepada hadits Nabi saw ketika ditanya oleh seorang wanita “ya Rasulullah kalau ibuku telah wafat, kalau aku bershadaqah atas namanya, apakah sampai pahalanya atau tidak?”, Rasul menjawab “betul, pahalanya sampai kepada ibumu yang telah wafat jika kau bersedekah atas namanya”. Demikian riwayat Shahih Bukhari. Diriwayatkan didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari bahwa ini merupakan dalil bahwa seluruh amal – amal ibadah yang dikirimkan kepada yang wafat itu sampai. Demikian pula dalam Syarh Nawawi ala Shahih Muslim, walaupun ada ikhtilaf dalam Madzhab Syafi’i bahwa ayat alqur’an bila dikirimkan tidak sampai. Akan tetapi pendapat yang lebih shahih adalah sampai, demikian dijelaskan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Nawawi dalam Syarh Nawawi ala Shahih Muslim dan juga didalam Al Majmu yang juga dikarang oleh beliau.

Dan Al Imam Nawawi menjelaskan bahwa ikhtilaf yang muncul ini bersatu dengan menjadikan semua yang dikirimkan itu (amal pahala kepada yang wafat) jika dikrimkan dengan atas nama doa maka tidak ada ikhtilaf lagi, jumhur seluruh madzhab dan Imam membolehkannya dan mengatakannya sampai karena dibungkus dengan doa. Sebagaimana tahlilan yang sering dibaca oleh kita wahai Allah sampaikan pahala alqur’an yang kami baca, shalawat yang kami baca, tasbih yang kami baca, tahlil yang kami baca, sampaikan kepada ruhnya fulan bin fulan. Kalau dengan kalimat seperti ini, jumhur (pendapat) seluruh Imam dan madzhab sampai pahalanya kepada yang wafat. Hadits – hadits serupa ini banyak, teriwayatkan didalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Maka tentunya ini merupakan jawaban yang jelas dan shariih (jelas tanpa syak), dalil – dalil yang tsigah dan shahih mengatakan pengiriman pahala amal kepada yang wafat itu sampai.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Amal – amal pahala kita tidak disia – siakan oleh Allah Swt dan pahala – pahala orang – orang yang telah wafat, pahala kita bisa kita hadiahkan kepada mereka. Bahkan berkata Al Imam Asy-Syaukani didalam Nailul Authar menjelaskan bahwa doa sampai kepada yang hidup dan yang wafat. Bukan hanya yang wafat saja, kalau dudah dirangkai dengan doa maka kita dengar satu nama seorang yang sangat dalam dalam ilmu haditsnya Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atsaqafi alaihi rahmatullah yaitu seorang muhaddits yang meriwayatkan lebih dari 5.000 hadits yang diambil oleh Imam Ibn Khudzaimah dan Imam Ibn Hibban didalam Shahih mereka. Ini Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atsaqafi berkata “aku menyembelih 12.000 ekor kambing di hari Idul Adha pahalanya aku hadiahkan untuk Rasulullah Saw dan aku mengkhatamkan 12.000X khatam alqur’an, pahalanya kuhadiahkan untuk Rasulullah Saw”, demikian cinta mereka kepada Sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat, senin yang lalu telah sukses acara kita di Masjid Istiqlal telah dihadiri ratusan ribu muslimin – muslimat, diliput oleh banyak stasiun televisi. Semoga itu menjadi hadiah yang menggembirakan hari Rasulullah saw. Bersatunya ratusan ribu muslimin – muslimat bershalwat kepada Sang Nabi saw dari mulai masyarakat, ulama dan umaro bersatu bahkan seluruh media yang hampir selalu menayangkan acara – acara yang membawa dosa, disaat itu mereka meliput acara pemuliaan dan penghormatan kepada Sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Amal – amal baik tidak dilupakan oleh Allah walaupun dari kafir (sebelum mereka masuk Islam). Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasul saw “ya Rasulullah di masa jahiliyyah dulu aku sering bershadaqah, aku membebaskan budak tapi itu pahalanya tertulis tidak wahai Rasul dan sebelum aku masuk Islam?” maka Rasul menjawab “aslamta ma salam bi khair” semua engkau itu selamat amal – amal pahalamu yang terdahulu itu, tetap tertulis dan dituliskan oleh Allah Swt pahala sedekahnya, pahala baiknya, membantu orang lain dan lain sebagainya itu ditulis oleh Allah, diabadikan tidak dilupakan. Ini makna hadits. Berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan makna hadits ini berikhtilaf (perbedaan pendapat para ulama) dalam menafsirkan makna hadits ini sebagian ulama menafsirkan seperti yang saya sebutkan, amal pahala yang mereka perbuat sebelum masuk Islam diabadikan oleh Allah setelah mereka masuk Islam tetap tercantum.

Tapi makna yang kedua adalah yang dimaksud oleh Sang Nabi, bukan amal pahala itu ditulis lagi setelah ia masuk Islam tapi yang dimaksud perbuatan – perbuatan baik mereka itu yang membuat Allah memberi mereka hidayah. Jadi mereka yang di luar Islam yang banyak berbuat baik tidak Allah lupakan, Allah tuntun ia sampai akhirnya mengenal Islam dan mendapat hidayah. Sehingga orang – orang yang di luar Islam selama ia berbuat baik dan beraamal yang luhur (amal – amal yang baik), bantu orang lain, banyak berbuat baik maka amal – amal itu akan membuka kasih sayang Illahi hingga mereka tidak wafat terkecuali didalam Islam. Demikian indahnya Allah Jalla Wa Alla yang memuliakan hamba – hambaNya yang berbuat baik bahkan mereka yang diluar Islam pun, Allah jadikan amal – amal baiknya menuntun mereka kepada hidayah.

Tidak mustahil seorang barangkali tokoh agama non muslim, apakah ia rahib ataukah ia pedande ataukah ia pendeta atau siapapun tidak mustahil ia itu wafat dalam keadaan Islam tanpa ada yang mengetahuinya. Sah tidak keislamannya? Sah di mata Allah, tidak sah di mata manusia. Bagaimana tidak sah di mata manusia namun sah di mata Allah? Seseorang tidak diakui sebagai muslim secara syari’ah jika tidak ada saksi yang mengetahui syahadatnya dengan bahasa arab atau bahasa masing – masing. Ia mengucapkan makna “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah” itu sudah cukup diakui keislamannya, asal ada 2 orang muslim atau lebih yang menyaksikannya ia jadi muslim.

Tapi bagaimana muslim yang diakui Allah tapi tidak diakui oleh manusia? Dia tidak mengucapkannya tapi hatinya muslim. Walaupun ia tokoh agama non muslim misalnya sudah di sakaratul maut, hatinya mengakui Lailahailallah Muhammad Rasulullah, muslim ia di mata Allah tapi di mata manusia tetap tidak bisa diterima keislamannya, tidak bisa dikuburkan dikuburan muslimin dan tidak bisa dikuburkan dengan cara yang islami karena ia tidak mengucapkan kalimat syahadat. Tapi di sisi Allah, ia muslim. Oleh sebab itu, betapa banyak orang – orang non muslim itu wafat dalam keadaan muslim sebaliknya betapa banyak orang yang seakan muslim tapi karena dosa – dosanya terlalu banyak, Allah palingkan hatinya dari syahadat di saat sakaratul maut (wa iyya dzubillah).

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian indahnya tuntunan Illahi menghormati perbuatan baik hamba – hambaNya. Jika seorang hamba berbuat baik, Allah hormati perbuatannya. Demikian indahnya Rabbul Alamin dan semua manusia itu lahir dalam keadaan suci, sebagaimana sabda Rasul saw “kullu mauluud yuuladu alal fitrah” semua yang lahir itu dilahirkan dalam keadaan yang suci tapi ayah ibunya atau walinya yang mengajaknya kepada nashrani atau majusi atau yahudi atau lainnya. Tapi semua bayi lahir dalam keadaan suci. Maksudnya kalau bayi lahir, orang zaman sekarang berkata “kamu kapan syahadat? dari lahir kamu pernah bersyahadat masuk Islam?”. Nih..pertanyaan sebagian orang muncul di masa sekarang “tidak bisa demikian, ucapan syahadat adalah bagi orang yang mengakui Tuhan selain Allah baru syahadat, kalau sudah dari lahir sudah mengakui tiada Tuhan selain Allah tidak perlu syahadat disaksikan 2 orang lagi”. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, banyaknya pertanyaan tentang hal ini.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Inilah bulan Rabiul Awwal, bulan dakwah kita, bulan semangat Nabi Muhammad Saw. Munculnya permasalahn – permasalahan dari mereka yang masih belum menyukai dan menerima Maulid Nabi memang ada tapi Alhamdulillah semakin tahun semakin bangkit semangat para pecinta Nabi Muhammad Saw. Dan sebab itu kita harus maju, jangan hanya seperti ini, ini kita belum puas seperti ini. Kita ingin terus berkembang dan meluas, kita ingin Jakarta ini betul – betul menjadi kotanya Sayyidina Muhammad Saw, kota yang damai, kota yang bebas dari kriminal, bukan kota kriminal, bukan kota narkoba tapi “Kota Sayyidina Muhammad Saw”. Ini yang kita idam – idamkan, ini cita – cita Sang Nabi saw siapa yang mau mewarisinya maka ia akan dicintai oleh Allah dan Rasul saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Muncul dan datang kepada saya banyak undangan – undangan dari partai – partai politik untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan partai mereka dan saya menerima undangan – undangan tersebut karena bukan dari 1 partai. Tentunya saya menghadapkan pertanyaan ini pada diri saya lebih dahulu bahwa partai – partai politik, apapun yang mereka inginkan sangat baik didakwahi dan menyeru mereka untuk dekat dan memahami sunnah Sang Nabi saw, tuk perduli kepada Islam. Jika seruan tidak saya sampaikan maka dosa – dosa yang mereka perbuat kita pun kena. Karena menyampaikan adalah hal yang fardhu kifayah meski terjun kita untuk memberi peringatan kepada mereka – mereka yang terjebak ke dalam ghaflah. Oleh sebab it upartai – partai politik yang demikian banyak di Indonesia ini bisa merancukan akidah Islam jika tidak diperjelas kepada mereka bahwa mayoritas muslimin di dunia adalah di Indonesia maka mereka harus memperjuangankan kedamaian Islam yang dengan itu akan damai pula agama lain yang ada di negeri ini.

Oleh sebab itu hadirin, jika muncul fitnah dari kanan dari kiri dari depan dari belakang mengatakan Majelis Rasulullah sudah berpolitik. Kita sudah kenyang dengan caci – maki dan fitnah dan kita tiodak akan mundur bahkan saya sudah dikatakan “Munzir Ghulam Ahmad”, yang hadir di Majelis Rasulullah murtad dan fitnahan – fitnahan seperti ini sudah kita terima dengan lapang dada demi tegaknya panji – panji Sayyidina Muhammad Saw. Jika muncul fitnah bahwa Majelis Rasulullah berpolitik silahkan mereka boleh memfitnahnya tapi di mata saya, dari mata kita semua panji akan runtuh di hari kiamat kecuali panji Sayyidina Muhammad Saw yang harus ditegakkan di semua kalangan masyarakat dari kalangan masyarakat terbawah sampai masyarakat tertinggi harus mengenal Muhammad Rasulullah Saw. Dan saya gembira dan menyambut hangat undangan – undangan dari partai politik kepada Majelis Rasulullah untuk Maulid bersama mereka. Biarkan mereka yang baik diantara mereka, atau yang jahat diantara mereka, yang jujur diantara mereka, atau yang koruptor diantara mereka, yang muslim, yang non muslim diantara mereka berdiri menghormati Sayyidina Muhammad Saw. Demikian hadirin – hadirat, semoga Allah Swt terus memakmurkan tuntunan Sang Nabi saw diseluruh kalangan masyarakat. Mulai kalangan terbawah hingga kalangan tertinggi.

Kita bermunajat kepada Allah Swt, Ya Rahman Ya Rahim benahi bangsa kami dengan keluhuran, benahi bangsa kami dengan kedamaian, benahi para koruptor dengan taubat dan hidayah. Rabbiy inilah doa dan munajat, benahi para pemimpin kami agar mencintai-Mu ya Rabb, agar mereka ingat kepada kematiannya, agar mereka ingat kepada kuburnya, agar mereka ingat kepada syafa’at Nabi Muhammad Saw. Ya Rahman Ya Rahim inilah doa dan munajat, inilah usaha kami yang tidak berarti namun usaha kami didukung oleh kekuatan Illahi, oleh kekuatan Rahmaniyyah. Ya Dzaljalali wal ikram dan usaha kami didukung oleh Nabi Muhammad Saw untuk ummatnya. Ya Rahman Ya Rahim “Allahumma….” Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim terbayang wajah – wajah saudara kami muslimin – muslimat yang masih tenggelam dalam perzinahan, dalam narkotika, dalam perjudian, dalam kerusakan atau merugikan bangsa, merugikan negara, mereka berbuat itu dengan senang, kalau mereka melihat tempatnya yang menanti di api neraka niscaya mereka akan bersujud sepanjang usianya. Rabbiy hujani mereka dengan hidayah, hujani mereka dengan taubat.. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram mereka yang berdiri diatas panggung dalam joget – joget dan mabuknya, kalau mereka melihat temannya yang sedang menggelepar di alam barzah, mereka akan meninggalkan panggung itu. Niscaya mereka memanggil Nama-Mu Rabbiy, mengemis pengampunan.

Hadirin – hadirat, jika kau lihat orang – orang yang sedang menjerit di dalam kubur, kita semua akan mati, kata Sang Nabi saw. Sebagaimana sabda Sang Nabi saw ketika jenazah diusung maka ruhnya melihat orang dari kerabat yang mengusung jenazahnya. Ruh itu jika orang shalih berkata “qaddimuniy.. qaddimuniy” cepat – cepat majukanlah aku ke dalam kuburku karena aku akan mendapatkan kemuliaan. Maka jika ia seorang yang banyak berbuat dosa, jika orang yang dhalim maka ia menjerit berkata “..alaiha ..biha” mau dibawa kemana jasadku, jangan dikuburkan. Rasul saw berkata “suara jeritan ini terdengar oleh seluruh makhluk terkecuali jin dan manusia”. Jika manusia mendengar jeritan ruh yang melihat jenazahnya yang dhalim itu menjerit – jerit maka manusia akan mati dari takutnya. Demikian hadirin – hadirat.

Kita berdoa kepada Allah untuk kita, untuk kerabat kita, untuk teman – teman kita muslimin – muslimat ampuni mereka dan seluruh dosa kami. Ya Dzaljalali wal ikram semua muslimin – muslimat yang masih terjebak dalam dosa beri mereka peringatan, guncang hati mereka untuk menyesal dan bertaubat. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim jadikanlah Jakarta ini kota yang paling banyak bershalawat kepada Rasulullah Saw. Ini kota dari Negara muslimin terbesar di muka bumi. Jadikan para pecinta Sang Nabi saw mencintai Rasul saw terbanyak di kota ini. Pemudanya, pejabatnya, semua elite politiknya, semua kalangan masyarakatnya paling banyak mencintai Nabiyyuna Muhammad Saw. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am.

Hairin – hadirat, saya mohon doa karena penyakit saya sering kambuh dari pada peradangan otak di belakang kepala dan saya terus berdoa agar dipanjangkan umur oleh Allah. Saya tidak ingin wafat sebelum tertulis di setiap pintu – pintu masuk Jakarta “Kota Sayyidina Muhammad Saw”. Rabbiy Rabbiy kabulkan hajat kami. Ya Rahman Ya Rahim kalau seandainya saya harus wafat, boleh terjadi setelah Jakarta Kota Sayyidina Muhammad Saw. Kota yang damai, kota yang penuh dengan shalawat kepada Rasulullah. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram percepat kemakmuran muslimin – muslimat, percepat kedamaian Jakarta dan seluruh kota muslimin, percepat kebangkitan cinta para pemuda kepada Nabi Muhammad Saw. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Kita teruskan dengan doa bersama meminta keselamatan bagi muslimin – muslimat semoga Allah memunculkan pemimpin yang baik, pemimpin yang membela kebenaran dan menindas kedhaliman, mencintai dan melindungi orang – orang yang lemah. Ya Rahman inilah doa dan munajat, dan telah bersabda Nabi-Mu Muhammad saw “tidak ada yang bisa merubah ketentuan Allah terkecuali doa”. Maka kita bermunjat bersama – bersama.

Hadirin – hadirat, sekaligus saya sampaikan salam dari Guru Mulia kita Al Hafidz Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz setelah dikabarkan acara kita di Masjid Istiqlal yang sukses dihadiri banyak muslimin dan dihadiri juga oleh Bpk. Wakil Presiden dan para tokoh partai politik. Beliau mengatakan Insya Allah semua yang hadir mendapatkan Rahmat dari Allah, mendapatkan … Nabi saw dan diikat lebih erat kepada Nabi Muhammad Saw. Demikian penyampaian dari Guru Mulia Al Hafidz Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidz.

Washollallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Majelis Rasulullah)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: