Akhir Shalat Malam Adalah Ganjil

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
اجْعَلُوا آ خِرَصَلَا تِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah ganjil” (Shahih Bukhari)

Image Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur, Maharaja Yang Tunggal dan Abadi, Pencipta alam semesta dari tiada hingga alam dibentangkan hingga seluruh alam berakhir dan Maha menjadikan iman dan ketaatan hamba – hambaNya kekal dan abadi. Sebagai pembuka Kasih Sayang-Nya yang kekal didalam kemewahan yang kekal dan abadi. Betapa mulianya jiwa yang mengingat Allah dan Allah Swt menjadikan seluruh alam semesta ini sebagai seruan bagi hamba – hambaNya.

Memperkenalkan Kesempurnaan Allah, memperkenalkan Kesempurnaan Sang Pencipta sebagaimana firman Allah “tiadalah penciptaan seluruh alam semesta hingga hari kebangkitan dihadapan Allah sama saja dengan mencipta satu orang manusia saja”. (QS Luqman 28) Tiada hal yang sulit bagi Rabbul Alamin untuk menciptakan sedemikian banyak warna, sifat dan bentuk yang diatur didalam kehidupan yang sempurna dan Allah telah berfirman “penciptaan alam dari awal hingga akhir ini tiada beda dengan mencipta satu manusia saja”. Demikianlah hadirin Maha Kesempurnaan Allah.

Betapa agung jiwa yang memuliakan Allah, betapa mulia sanubari yang menghendaki keridhaan Illahi, meninggalkan hal – hal yang munkar, menjauhi hal – hal yang hina, menjelang keluhuran, terlebih lagi dengan masuknya kita di tahun baru Muharram yang mengingatkan mulai hijrahnya Para Muhajirin Radiyallahu Anhum Ajmain. Satu persatu telah mulai diijinkan oleh Sang Nabi Saw untuk berhijrah menuju Ardhul Madinah (Bumi Madinah) dan mereka berpindah ke Madinah Al Munawwarah menanti kedatangan Sang Nabi Saw. Sang Nabi Saw baru bergerak dari Makkah pada minggu pertama di bulan Rabiul Awwal. Demikian didalam Sirah Ibn Hisyam sehingga masuknya Sang Nabi Saw kepada Madinah Al Munawwarah adalah pada 12 Rabiul Awwal.

Hadirin – hadirat, 1 Muharram dijadikan awal dari penanggalan Hijriyah oleh Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhum, karena di bulan Muharram ini mulai munculnya ijin hijrah ke Madinah Al Munawwarah sehingga mereka mendapat gelar mulia yaitu Muhajirin (orang yang berhijrah kepada Madinah Al Munawwarah) untuk menjaga kelangsungan Islam dan hijrah telah terjadi berkali – kali. Hijrah yang pertama ke Habsyah lantas ke Persia dan terakhir ke Madinah Al Munawwarah.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Kejadian terusirnya muslimin dari Makkah Al Mukarramah yang tampaknya adalah bentuk kelemahan dan ketidak berdayaan Islam, akan tetapi justru perpindahan itu membuka cahaya hidayah ke Barat dan Timur hingga kembali 10 tahun kemudian ke Makkah Al Mukarramah dan jadilah Makkah Al Mukarramah ini kiblat bagi sujud segenap hamba Allah di muka bumi Barat dan Timur.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul Saw selalu menyeru kita kepada keluhuran, menyeru kita kepada kebahagiaan, dan beliau sangat tahu hal – hal yang akan membawa keburukan kepada kita. Oleh sebab itu Sang Nabi saw menuntun kita kepada tuntunan yang paling sempurna. Demikianlah idolaku dan idola kalian, Sayyidina Muhammad Saw. Idola yang paling pantas dipanut dari semua panutan. Pemimpin yang paling mulia dari semua pemimpin dan menjadi panutan segenap golongan masyarakat. Hadirin – hadirat, oleh sebab itu Allah mengenalkan Sang Nabi Saw dengan firman-Nya “laqad jaa akum rasulun min anfusikum a’ziizun a’laihi maa a’nittum hariishun a’laikum bil mu’miniina raufurrahiim” QS. At Taubah : 128 (Telah datang Rasul, diutus kepada kalian dari bangsa kalian, dari bangsa manusia. Sangat berat baginya melihat apa – apa yang menimpa kalian dari kesulitan dan musibah. Sangat menjaga kalian dan terhadap orang – orang yang beriman itu berlemah lembut).
Inilah Nabiku dan Nabi kalian yang telah dikenalkan oleh Allah sebagai orang yang paling perhatian kepada seluruh umatnya.
Hadirin – hadirat, perhatian beliau kepada seluruh umat ini melebihi perhatian kekasih kita kepada kita. Tuntunan beliau selalu berusaha menyelamatkan kita dari hal – hal yang tercela di dunia dan di akhirat agar kita terjaga dari musibah, terjaga dari kecelakaan, terjaga dari kehinaan, terjaga dari permasalahn di dunia dan di akhirat. Inilah Nabiku dan Nabi kalian dan Nabi kita semua, Sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Tentunya Sang Nabi saw tidak puas kalau kita hanya beramal hal yang fardhu saja dan demikian pula Rabbul Alamin mengutus pada Sang Nabi saw untuk mengenalkan hal – hal yang sunnah. Yang ketika mereka lakukan, mereka semakin dekat kepada Allah Swt. “jika hamba – hamba Ku itu mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu lalu mereka tidak mau berhenti pada hal yang fardhu, lantas mereka terus mendekat kepada Aku dengan hal – hal yang sunnah sampai Aku mencintainya”. (Shahih Bukhari) Dari kalimat ini telah jelas bahwa hal – hal yang fardhu diteruskan dengan hal – hal yang sunnah menuntun kita untuk dicintai Allah Swt. Inilah tuntunan Nabi kita Muhammad Saw.

Dan kita telah mengetahui bahwa shalat 5 waktu adalah shalat yang fardhu dan Sang Nabi Saw menuntun kita lebih dari itu yaitu dengan shalat – shalat yang sunnah. Diantaranya adalah hadits yang kita baca ini “Ij’aluu akhira shalaatikum billaili witraa” (jadikanlah akhir dari shalat sunnah kalian di malam hari itu dengan hitungan angka yang ganjil yaitu witir).
Hadirin – hadirat, Rasul Saw tidak pernah meninggalkan shalat witir. Di dalam safar aw hadhar (safar atau dirumah) apakah di rumahnya atau dalam perjalanan, beliau tidak pernah meninggalkan shalat witir. Dan dalam keadaan sakit atau dalam keadaan sehat, dalam keadaan mampu melakukannya berdiri atau dengan duduk, beliau tidak pernah meninggalkan shalat witir.

Oleh sebab itu hadirin – hadirat bagi kita yang sudah tentunya mengerti kemuliaan shalat fardhu, untuk menambah kemuliaan dengan shalat witir. Karena shalat witir itu adalah shalat sunnah yang paling mulia karena ia berada diantara qiyamullail. Yang mampu melakukannya di tengah malam atau di sepertiga malam terakhir setelah tidur terlebih dahulu maka labih afdhal, itu lebih baik dan lebih mulia. Tapi jika tidak mampu, lakukanlah setelah shalat Isya’ sebelum tidur dan kalau mampu setelah ba’diyah shalat Isya’ lalu lakukan shalat witir 3 rakaat dan shalat witir dibatasi hingga 11 rakaat dan setelah itu tidur. Tapi kalau seandainya mampu bangun beberapa menit sebelum subuh maka tentunya afdhal dilakukan ditengah malam atau disepertiga malam terakhir.

Hadirin – hadirat sebagaimana diriwayatkan didalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Allah Swt turun ke permukaan bumi yang paling dekat dengan bumi ini (di sepertiga malam yang terakhir). Bukan berarti Allah itu turun dekat kepada bumi karena Allah tidak terjebak dengan waktu dan tempat. Akan tetapi yang dimaksud Allah sangat dekat kepada hamba – hambaNya yang mau mendekat kepada-Nya di sepertiga malam terakhir. Waktu itu adalah waktu yang paling indah bagi Allah untuk menerima hamba – hambaNya yang mencintai Allah. Karena disaat – saat itu hamba – hamba yang tidak mencintai Allah masih tertidur lelap. Maka Allah membanggakan mereka kepada para malaikat lihat hamba – hambaKu mereka meninggalkan tempat tidurnya, meninggalkan istirahatnya disaat orang lain tidur terlelap, mereka ruku’ dan sujud mengagungkan Nama-Ku.

Hadirin – hadirat inilah kemuliaan dari puncak seluruh shalat sunnah, yaitu qiyamullail dan tentunya adalah diakhiri dengan shalat witir. Lalu bagaimana kalau seandainya kita sudah shalat witir setelah shalat Isya’ sebelum tidur, lalu ternyata bangun lagi dimalam hari, apakah boleh shalat tahajjud lagi atau selesai tidak boleh tahajjud lagi? Boleh tahajjud lagi tapi yang makruh adalah shalat witir 2X. Shalat tahajjud boleh berkali – kali, qiyamullail sebelum tidur, sudah shalat witir atau sudah shalat sunnah malam. Tidur, bangun lagi mau shalat malam, boleh! Walaupun sudah witir. Karena yang diinginkan dan disunnahkan oleh Sang Nabi saw adalah angkanya ganjil. Bukan berapa kali witirnya yang dilarang, 2 kali witir tidak boleh karena nanti akhirnya jadi genap angkanya.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Kalau seseorang sudah melakukan shalat witir 3 rakaat, malamnya mau shalat lagi, 2 rakaat, 4 rakaat, 6 rakaat, 8 rakaat, toh totalnya tetap ganjil. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.

Ini bulan Muharram, tentunya saya bawakan hadits ini dengan harapan bahwa mulai malam ini kita tidak tinggalkan lagi shalat witir hingga kita wafat. Semoga kita bisa mewarisi kemuliaan sunnah Nabi Muhammad Saw. Barangkali ada diantara hadirin yang masih belum melakukan shalat 5 waktu, semoga diberi kemudahan oleh Allah untuk segera melakukan shalat 5 waktu setelah itu naik kepada shalat witir.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
“Innal malaikat tushalli ala ahadikum maa daama fi mushallaahilladzi fiihi maa lam yahduts.”,demikian didalam Shahih Bukhari sabda Rasulullah Saw “sungguh para malaikat itu mendoakan orang – orang diantara kalian yang dia itu duduk di tempat shalatnya hingga ketika ia masih belum batal wudhunya”. Selama ia duduk ditempat ia shalat, di masjid kah atau bukan di masjid, di musholla. “alladzi fiih ma lam yahduts, allahummarhamhu Allahummaghfirlahu, ”wahai Allah ampuni ia, wahai Allah sayangi ia (ini doa malaikat selama ia masih duduk di tempat shalatnya). Kalau kita masih belum batal wudhunya, entah berdzikir, entah terdiam, entah tafakkur, malaikat terus mendoakan kita. Oleh sebab itu kalau kita setelah melakukan shalat disunnahkan duduk berlama – lama seandainya tidak ada kesibukkan lain, lanjutkan dzikir – dzikir kita yang diajarkan oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Demikian hadirin – hadirat riwayat Shahih Bukhari.

Dan juga Rasul Saw menjelaskan malaikat terus mendoakan dan beristighfar kepada kita selama kita betah ditempat kita shalat. Demikian indahnya hadirin – hadirat, Nabi kita membukakan pintu – pintu kemuliaan bagi sepanjang kehidupan kita bahkan didalam duduk pun, Allah Swt memuliakan kita selama kita berada ditempat kita shalat. Subhanallah!! Kalau seandainya kita duduk di tempat shalat sejenak saja lalu bagaimana dengan shalatnya? Kalau tempat shalatnya saja kita duduk disitu, Allah terus memuliakan sebelum kita pergi, sebelum batal wudhu lalu bagaimana shalatnya? Tentunya lebih agung dan luhur, tentunya lebih besar kemuliaan yang ditumpahkan oleh Allah.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Sehingga Nabiyyuna Muhammad Saw tidak pernah puas – puasnya untuk menolong umatnya yang berada dalam kesulitan. Sebagaimana riwayat Shahih Muslim, ketika salah seorang shahabiyah (sahabat wanita) wafat, yang biasa berkhidmah di masjid nabawiy tidak terlihat lagi. Rasul saw bertanya “mana wanita itu, biasanya khidmah di masjid? nyapu – nyapu di masjid, kok tidak terlihat lagi? Maka para sahabat berkata “sudah wafat ya Rasulullah”. Merah padam wajahnya Rasul, “kenapa kalian tidak kabarkan aku dia wafat, tidak kabarkan aku dimana dia dikuburkan”, maka para sahabat berkata “dimakamkan malam hari ya Rasulullah, kami tidak tega membangunkanmu saat dia dimakamkan”. Rasul berkata “tunjukkan aku pada kuburnya”. Rasul saw melakukan shalat ghaib diikuti oleh para sahabat. Selepas shalat Rasul saw bersabda “inna hadzihil qubur mamlu’atun dhulmatun alayhaa, Innallaha yunawwirha bisshalaati alayhim ” (pekuburan ini gelap, kata Rasul. Dengan hal – hal yang tidak baik, penuh dengan kegelapan (barangkali dengan jeritan dan tangis) tapi Allah menerangi pekuburan ini dengan shalatku tadi kepada mereka. Demikian syafa’at Nabi Muhammad Saw kepada umatnya tidak senang kalau umatnya dalam kesedihan.

Demikian pula diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, beliau lewat di 2 pekuburan lantas beliau berhenti dan berkata “2 pekuburan ini berada didalam keadaan sulit, yang satu adalah seorang yang lewat di muka bumi dengan banyak mengadu domba”. Hati – hati kita kalau diberi lidah oleh Allah, jangan dijadikan untuk mengadu domba. Ya barangkali diadu, lihat para da’i diadu satu sama lain, padahal ia muslim, padahal da’i. Tidak pantas hal seperti ini, diazab didalam kubur karena sering mengadu domba.
Hadirin – hadirat “yang kedua adalah orang yang tidak menutup auratnya”. Ini dua – dua kesulitan didalam kubur, kata Rasul. Maka Rasul mengambil 2 lembar daun, yang satu ditaruh di satu kubur dan yang satu di kubur lainnya. Rasul Saw berkata “semoga Allah meringankannya sebelum daun itu kering”. Demikian hadirin – hadirat, Rahmatan lil Alamin yang selalu tidak tega kepada apa yang menimpa saudara – saudaranya muslimin muslimat. Mewarisi sifat ini kepada kita. Kalau lihat saudara kita dalam kesuliatan, jangan diam.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Kalau lihat kerabat kita, teman kita dalam kesulitan, jangan diam saja. Bantu mereka, warisi sifat Nabiyyuna Muhammad Saw yang telah bersabda riwayat Shahih Bukhari “Allah itu mencintai sifat lembut dan Allah itu memberi pada orang – orang yang berkelakuan lembut lebih daripada orang lain. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, dan tentunya inilah semulia – mulia makhluk, seindah – indahnya ciptaan Allah adalah Sayyidina Muhammad Saw.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Tsumamah bin Utsal radiyallahu anhu sebelum masuk Islamnya, Tsumamah ini datang, ditangkap karena ia salah seorang pimpinan kuffar, ditangkap mau dibunuh. Rasul saw bilang “jangan dibunuh, ikat saja ditiang masjid”. “diapakan?”, Rasul menjawab “diamkan saja, beri makan, beri minum tapi biarkan disitu bukan dipenjara, bukan di sel tapi didalam masjid”. Maka sore itu Rasul bertanya “wahai Tsumamah bagaimana keadaanmu?”, Tsumamah berkata “kalau engkau membunuh aku maka engkau membunuh orang yang mempunyai darah”. Maksudnya kalau membunuh tsumamah nanti pengikutnya juga tidak akan diam, akan balas dendam. “Kalau kau lepaskan aku, kau temui aku ini orang yang sangat berterima kasih”, demikian jawaban dari Tsumamah. Maka Rasul saw diam, tahu beliau. Esoknya ditanya lagi “Tsumamah bagaimana keadaanmu?”, “keadaanku kalau kau bebaskan aku, kau akan lihat aku orang yang sangat berterima kasih”. Mulai ciut Tsumamah, ia tidak mengatakan “aku ini orang yang mempunyai darah, bisa balas dendam”, sekarang tidak disebut lagi kalimat itu.yang disebut “aku kalau kau lepaskan maka aku adalah orang yang sangat berterima kasih”. Rasul saw pergi lagi dan hari ketiga Rasul bertanya lagi “Tsumamah bagaimana keadaanmu?”, tsumamah menjawab “tidak berubah dari yang aku katakan kemarin”.

Keras sekali Tsumamah ini, tentunya layaknya ditebas dengan pedang, dan Rasul berkata “lepaskan”, “ya Rasulullah ini kan tawanan?”, Rasul berkata “lepaskan!”. Maka Tsumamah dilepaskan, kemana ia pergi? Ia pergi kebelakang, mandi, berwudhu lalu kembali dan mengucap “Asyhadualla Illahailallah wa asyhaduanna Muhammadurrasulullah”. Tsumamah seorang satria, ia tidak mau masuk Islam dalam keadaan terikat, ia ingin masuk Islam dalam keadaan bebas. Kalau dibebaskan mau masuk Islam, kalau dipaksa tidak mau, Rasulullah tahu itu. Dan ia terharu dengan akhlak Nabi Muhammad Saw seraya berkata (riwayat ini riwayat Shahih Bukhari) “sungguh tidak ada wajah yang paling kubenci di muka bumi selain wajahmu tapi sekarang wajahmulah yang paling kucintai dari semua wajah dimuka bumi. sebelumnya agama yang paling kubenci adalah agamamu wahai Muhammad tapi sekarang yang paling kucintai adalah agamamu. Tiadalah tempat, kampung halaman yang paling kubenci adalah Madinah Al Munawwarah kampung ini tapi sekarang kampung ini yang paling kucintai Madinah Al Munawwarah dari tempat yang lainnya”

Bagaimana jiwa bisa terbalik dengan cepat, wajah yang paling dibenci adalah wajah Nabi Muhammad Saw berbalik menjadi wajah yang paling dicintai. Inilah akhlak Nabiyyuna Muhammad Saw yang meruntuhkan jiwa orang – orang yang tenggelam didalam kekerasannya, didalam segala kesombongannya, ia seorang satria. Tidak mau ia masuk Islam dalam keadaan terikat, bebaskan. Mau masuk Islam tapi ia tidak mengatakan “bebaskan aku baru mau masuk Islam”, ia berkata “kalau kau bebaskan aku akan berterima kasih”, itu saja. Rasul saw membebaskannya. Demikian hadirin – hadirat, akhlak Nabiyyuna Muhammad Saw yang dengan inilah ia kemudian mengucapkan Asyhadualla Illahailallah wa Asyhaduanna Muhammadar Rasulullah”.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian indahnya tuntunan Sang Nabi saw, betapa indahnya kalau seandainya budi pekerti beliau itu muncul ditengah – tengah kacaunya keadaan seperti keadaan sekarang ini. Satu sama lain saling menjatuhkan antara ayah dengan anak, antara anak dengan ayah, suami dengan istri, istri dengan suami. Semua saling berdesakan untuk menjatuhkan satu sama lain. Ini entah karena krisis ekonomi, entah karena terlalu kaya, entah karena segala hal. Karena mereka ini lemah iman, ini di dunia. Datang waktunya di akhirat, lebih saling menjatuhkan lagi satu sama lainnya. Ingat idola kita Nabiyyuna Muhammad Saw, ingat akhlak kita, ini bulan Muharram tahun baru Islam kita benahi hubungan kita dengan ayah dan bunda kita kalau sudah baik hubungan ayah bunda denganmu maka perbaiki lebih baik lagi, kalau seandainya belum, masih sering membuat marah ayah dan bunda, jadikan malam ini malam mulainya kita berbakti pada ayah dan bunda. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.

Dan tentunya beberapa malam lagi kita juga ucapkan selamat bagi RASfm (radio alaika salam) yang meliput acara ini secara langsung (disiarkan di radio). Semua pendengarnya semoga dilimpahi Rahmat oleh Allah Swt, semua pihak yang turut mendukung acara mulia ini dari RASfm. Hadirin – hadirat, beberapa hari lagi kita akan melewati malam 1 Januari. Kita (Majelis Rasulullah) mengadakan Tabligh Akbar di malam itu. Bukan untuk merayakan malam 1 Januari tapi untuk menandingi dengan doa dan munajat bagi saudara – saudari kita yang terjebak didalam kemaksiatan di malam itu. Di malam itu paling banyak dosa umat Nabi Muhammad Saw, paling banyak perjudian, perzinahan, semuanya dimalam itu di seluruh dunia. Demikian hadirin.

Oleh sebab itu kita memahami bahwa dosa itu cepat dibersihkan oleh Allah Swt dengan musibah. Oleh sebab itu dari tahun tahun yang lalu kita lihat mulai Desember aman – aman saja cuaca tetapi setelah selesai malam 1 Januari mulailah datang hal – hal yang sangat menyedihkan yang membuat tangis bagi kita. Kenapa? karena itu pembenahan dosa dari Allah Swt dan tentunya telah belasan hadits shahih riwayat Shahih Bukhari dan Muslim bahwa semua musibah yang ditimpa umat ini adalah penghapusan dosa baginya. Tapi kita tidak menginginkan datangnya musibah. Lalu bagaimana? Maka oleh sebab itu kita akan tetap mengadakan Dzikir Akbar di malam itu.
Saudara – saudara kita tiup terompet tahun baru, kita gemuruhkan Nama Allah Swt, Nama Yang Paling berhak untuk diagungkan dari seluruh nama. Kita berdzikir dengan kalimat Allah Allah sebanyak 1000X di malam 1 Januari itu. Tentunya bukan untuk mengagungkan malam 1 Januari tapi untuk juga menandingi dahsyatnya maksiat di malam itu. Kita berdoa agar muslimin muslimat dijaga oleh Allah dan saat ini seluruh permukaan bumi dari segala musibah yang akan datang atau dosa – dosa yang akan terjadi di malam itu. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.

Kenapa? Karena Allah Swt berfirman “fadzkurullah dzikran katsira” (berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak) (QS Al Ahzab 41) dan juga Rasul saw bersabda riwayat Shahih Muslim “belum akan datang hari kiamat selama masih ada di muka bumi seorang muslim yang menyebut Nama Allah Allah”. Selama masih ada jiwa yang berdzikir kepada Allah, bumi belum akan kiamat.
Kenapa?
karena Allah memuliakan itu, Allah memuliakan jiwa yang beriman, berdzikir menyebut Nama Allah. Dan tentunya berdzikir itu berada didalam sirran wa jahran, sebagaimana riwayat shahih bukhari : Allah Swt berfirman didalam hadits Qudsiy “ana ma’a ‘abdi haitsu maa dzakaranii wa taharrakat bii syafataah (Aku bersama hamba-Ku ketika hamba-Ku mengingat-Ku dan bergetar bibirnya menyebut Nama-Ku). Kedua bibir yang bergetar menyebut Nama Allah itu diperhatikan oleh Rabbul Alamin.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu kita menjadikan malam itu bukan untuk malam maksiat tetapi malam doa dan munajat. Bagi yang mampu hadir, hadirkan dirimu dan sampaikan kepada saudara dan sahabat kita. Kita akan mengadakan Dzikir Akbar di malam itu di Majelis Taklim Al Karimah pimpinan KH. Ahmad Baihaqi di Manggarai, nanti diumumkan alamatnya. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah. Dan acara akan dimulai pk. 21.30, mulai orang – orang ditengah malam sudah riuh terompet, kita riuh bergemuruh dengan Keagungan Nama Allah Swt. Mereka gembira, kita bermunajat, berdoa kepada Allah Swt, semoga Allah Swt melimpahkan hidayah bagi mereka yang terjebak dalam kegelapan dosa, semoga Allah mencabut keinginan mereka untuk berbuat dosa menggantikannya dengan keinginan perbuatan yang luhur.

Ya Rahman Ya Rahim kami bermunajat kehadirat-Mu dimalam ini bersama ribuan muslimin muslimat telapak tangan kami terangkat penuh harapan kepada Nama-Mu Yang Maha Indah dan Maha Berkuasa, Ya Rabb Wahai Nama Yang membuka segenap kebahagiaan dunia dan akhirat yang dengan berdzikir menyebut Nama-Mu, Kau bersama kami dan Kasih Sayang-Mu bersama kami, wahai Rabbiy yang setiap kami menyebut Nama-Mu Kau hapuskan dan Kau jatuhkan dosa – dosa kami dan Kau angkat kami semakin dekat kehadirat-Mu. Yang dengan menyebut Nama-Mu Kau singkirkan musibah yang datang pada kami dan datangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ya Rahman Ya Rahim benahilah kami dan seluruh muslimin, benahilah bumi Jakarta dan seluruh wilayah Barat dan Timur, Ya Rahman Ya Rahim pastikan seluruh wajah ini tidak akan melihat api neraka selama – lamanya, pastikan seluruh kami wafat dalam khusnul khotimah, pastikan seluruh kami wafat dalam keagungan makna kalimat tauhid Laailahailallah Muhammadurrasulullah saw

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Hadirin – hadirat, perbanyak ucapan Laillahailallah dan jadikan ucapan ini untuk mencari keridhoan Allah, sebagaimana sabda Nabiyyuna Muhammad Saw riwayat Shahih Bukhari “Barangsiapa yang mengucap Laillahailallah untuk mendapatkan keridhoan-Ku maka Allah haramkan ia dari api neraka”.

Allah munculkan dalam dirinya dan jiwanya keinginan untuk berbuat baik dan mulia dan akan Allah padamkan pada dirinya dan sanubarinya keinginan untuk berbuat yang hina. Demikian cahaya kalimat Laillahailallah Muhammad Rasulullah.

Tabligh Akbar Majelis Rasulullah Saw akan diadakan pada malam tanggal 1 Januari (malam kamis) di Majelis Taklim Al Karimah,

dan akan dilanjutkan pada hari Sabtu dengan Dzikir Akbar di Majelis Taklim Remaja Islam RW 03, Johar Baru, Jakarta Pusat. Dan hari jum’at dzikir akbar di kediaman Bp. Sulaiman di Jl. Kp.Tipar Rt.04/07 P.Kelapa Duren Sawit, Jakarta Timur. Malam ahad akan diadakan Tabligh Akbar di JOhar Baru, Jakarta Pusat diteruskan dengan ziarah ke makam Habib Ahmad bin Alawi Al Haddad, Kalibata.

Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, kita berjumpa malam selasa yang akan datang Insya Allah tentunya dengan kegembiraan menyambut kedatangan Guru Mulia kita. Kita akan mengadakan acara majelis ini tanggal 12 Januari 2009 di MONAS, Insya Allah akan dihadiri lebih dari 1 Juta muslimin muslimat. Semoga acara ini sukses dan semoga semua acara beliau sukses serta dzikir dan tabligh beliau.

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(majelisrasulullah.org)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: